Saturday, 5 November 2016

Kita, hadiah spesial untuk dunia


Pernahkah bunda bertanya-tanya apa tujuan kita diciptakan di dunia?, atau mungkin bunda sudah mengetahui apakah hakikat keberadaan diri kita di dunia ini? (salut), hayuk berbagi di komentar ya bun sholihah. Bagi bundas yang masih wondering mengapa kita bisa berada disini, kok bukan di planet mars, kok bukan di keluarga A, kok bukan di negara A? dan seterusnya. Mungkin bisa menjawabnya bersama saya, jawaban mendasar yang saya fahami adalah tujuan penciptaan manusia yang telah disampaikan Allah, bahwa kita diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Sederhana bukan?, begitu cintanya Allah kepada makhlukNya, kitapun ditunjukkan bagaimana caranya hidup dan menghidupkan dunia. Untuk beribadah, menyembah Allah, bukan yang lain, hanya menjadi hamba Allah. Menjadi hamba dapat bermakna kita taat sepenuhnya pada Dzat yang kita sembah. Maka sudah selayaknya kita menjadi hamba yang apa adanya, sebagaimana kita diciptakan, taat pada petunjuknya dalam berkeyakinan, bahwa hanya Allah saja satu Tuhan pencipta dan pengatur alam semesta. Taat pada perintahnya bahwa di seluruh aktivitas kita, menjadi istri adalah seperti yang Allah perintahkan, menjadi ibu adalah sebagaimana yang Rasulullah ajarkan, bertetangga tidak saling menyakiti, tidak menyebar aib tetangga, berbuat baik pada tetangga tanpa memandang ia muslim atau kafir, menuntut ilmu sebagaimana yang diperintahkan dalam Islam, melakukan jual beli baik tunai maupun kredit sesuai dengan akad-akad yang di kabarkan Rasulullah, memilih pemimpin dan menerapkan sistem pemerintahan apa adanya sebagaimana diperintahkan Allah dan diteladankan Rasulullah serta para sahabat. Menakjubkan bukan?, mulai dari lingkup bernegara, mengatur hubungan negara dengan negara lain, mengatur sistem ekonomi dunia, mengatur peran negara dalam melayani rakyatnya (jangan dibalik ya? #upss), panduan dalam menuntut ilmu, panduan menjadi suami, istri serta keluarga yang dirindu surga, petunjuk mendidik anak-anak, tutorial menutup aurat, standar konsumsi, menjaga kebersihan dan kesehatan, semua sdh Allah berikan sebagai pemisah bagi ummatNya, petunjuk yang memisahkan mana yang bathil mana yang haq. Tentunya sewajarnya kita pun menjadi seperti yang Rabb kita gariskan, taat tanpa tapi. Apap pun peran kita di bumi ini, taatlah, sebagaimana yang Allah inginkan, ikutilah petunjuknya.
Setelah memaknai hakikat penciptaan, saya mencoba melihat mengapa anak-anak menakjubkan yang ada dirumah ini dititipkan tumbuh dan berkembang di rahim saya (aihh, jadi pengen hamil lagih, semoga yang pengen hamil juga cepet isi yah). Mengapa kakak faqih yang tangguh, berani, kreatif, pandai bernegosiasi untuk mencapai tujuannya, anak yang tak mudah menyerah, serta memiliki daya tahan yang tangguh ini hadir dalam keluarga kami. Benar-benar menumbuhkan semangat belajar menjadi ibu tangguh deh kakak faqih ini mah. Mengapa Allah titipkan kakak atta yang begitu menyenangkan, penuh kasih sayang, kreatif, komunikatif, supel, menghormati orang tua, serta berpotensi menjadi koordinator yang handal ini dititipkan pada saya. Mengapa kakak hafizh yang berani dan dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi serta keinginan yang kuat untuk belajar menjadi hadiah spesial di keluarga kami. Mengapa hana yang energinya sudah seperti baterai alkaline (hehehe), pengamat ulung yang penuh rasa ingin tahu serta punya keinginan yang kuat untuk belajar ini menjadi gadis cilik pertama di keluarga. Hmmm... pernah kah mommies membuat daftar potensi ananda, kemudian bertanya mengapa kah anak-anak surga ini hadir dirumah kita.
Well, maka saya berupaya menemukan jawabannya kemudian mencocokkan potensi saya dengan potensi anak-anak hingga menemukan rasa syukur yang mendalam, karena Allah sungguh membuat perhitungan yang sempurna dan seimbang, walaupun mungkin sulit untuk kita lihat. Karena kita sering melihat dengan kaca mata satu sama dengan satu. Saya bersyukur anak-anak ini hadir dalam keluarga saya, bisa jadi ketika tidak ada kakak faqih di rumah tangga kami maka saya dan suami tidak termotivasi untuk belajar, yang menutupi potensi menjadi pembelajar yang cepat. bisa jadi ketika tidak ada kakak atta di dunia kami saya melupakan potensi saya untuk selalu peduli sesama bersama kakak Atta. Bisa jadi saat tiada hafizh sebagai hadiah di keluarga kami saya mengubur potensi saya yang ternyata memiliki daya juang yang tinggi. Bisa jadi ketika Allah menitipkan Hana maka saya terus mengasah kemampuan saya mengelola pekerjaan rumah dengan cekatan serta mau mengevaluasi diri (singsing lengan baju, huhah, huhah). Peran mengatur rumah tangga, mendidik dan menyiapkan generasi penakluk pembebas kota Roma tentu perlu energi ekstra, kesabaran tingkat tinggi, doa yang tak terputus serta ikhtiar optimal. Terasa berat, tentu, ada kalanya ketika pemicu stress muncul, maka terasa berat, melelahkan, dan bikin mellow macam drama korea (aiihhh, lama kali tak nonton). Bismillah, dengan dorongan akidah keyakinan bahwa Allah ar Rahman, juga Pengatur yang sempurna, Dia titipkan anak-anak istimewa untuk ibu spesial seperti saya (aamiin) karena kami adalah komposisi yang pas, mungkin saya tak sanggup mendidik si A jika saja ia dihadirkan dirumah kami. Begitu pula sebaliknya, mungkin anda tak mampu mengarahkan pejuang cilik dalam keluarga saya (toss ya bun).
Kita, hadiah spesial untuk keluarga kita, wanita istimewa, ibu terbaik, istri menawan, keluarga teladan, insyaAllah. Akan mengambil peran perubahan pada dunia, mengubah lingkungan keluarga dan masyarakat tempat kita berada. Saya berada dalam keluarga besar yang sebagian terlibat riba, inilah salah satu misi Allah hadirkan keluarga kami di lingkungan keluarga besar, untuk menyeru kembali kepada ketaatan, menggandeng saudara bahwa kita semua harus berada di surga Nya, menuntun tetua bahwa ternyata Allah karuniakan manusia di dunia untuk menjalankan semua hukumNya , tidak semata ibadah dipermukaan, tapi taat secara menyeluruh, dalam berjual beli, sewa menyewa, serta menjalin silaturrahim berdasarkan petunjuk Ilahi.

Pun mewujud sebagai warga negara yang berada dalam kondisi politik yang tercemar kepentingan kerakusan pribadi, jauh dari peran sejati politik, mengatur urusan ummat, memudahkan masyarakat. Keluarga kita hadir dalam kondisi akhir zaman yang telah dikabarkan Rasulullah, menyeru perubahan kepada ummat, menularkan semangat ketangguhan untuk mempertahankan kebenaran, bersama ummat menyemai generasi masa depan politik yang mensejahterakan dunia, rahmatan lil alamin. Kita menjadi keluarga yang melihat jebakan ekonomi ribawi sehingga wajib bagi kita mendakwahkan serta memberi teladan bagaimana kah jual beli kredit sesuai dengan syariat yang akan menumbuhkan keberkahan di lingkungan kita. Keluarga-keluarga kita berada dalam dunia yang disetir segelintir manusia yang haus kekuasaan dan tertipu kesenangan dunia, yang dengan serakah menduduki negeri-negeri tertinggal, mengeruk sumber daya alam kemudian meninggalkan bongkahan cemaran yang melukai bumi. Maka kita berkewajiban untuk mengembalikan dunia yang melindungi dan menjamin keimanan dan kultur positif yang ditanamkan keluarga dan komunitas. Sehingga akan “menciptakan” individu terbaik yang terjaga akhlaknya, melindungi fitrah-fitah kemanusiaan dari “polusi” peradaban. Inilah kita, keluarga kita, hadiah spesial untuk dunia dengan misi-misi spesifik kita.

No comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik