Saturday, 27 February 2016

Inikah rasanya? Istri muda?


Jreng.. sebagian wanita mungkin merasa seeer.. seeer.. gimana gitu kali ya, baca headline nya (ngikik kuda). Topik ini seru kan? Sebagian merasa sebagai bahasan yang selalu hangat, bisa jadi ada yang berfikir topik yang tak menarik untuk dibincangkan karena bikin pro kontra, ada yang enggan membicarakan, atau bahkan terkesan menghindari. Buat yang sudah deg deg seer baca judulnya, maaf sekali, saya tak berbicara tentang istri muda yang biasanya. Ini cerita tentang istri muda yang lain (he..he ).



Menjadi istri muda, mengalaminya, menjalani hari-harinya, meresapi kebimbangannya, merasakannya resahnya, memahami getirnya. Anda sedang melaluinya?, ya, saya pun telah melaluinya?. Istri muda, istri yang muda. Gadis yang menjadi istri di umur hampir sembilan belas tahun. Tanpa rencana, tanpa mimpi, hampir tanpa bekal, selintas bersama cemas, mungkin genggaman harap, beserta berbukit niat menuntut ilmu, gunungan semangat perbaikan diri, juga, cinta yang melangit.

 Tak berselang bulan, sejak mengikatkan diri pada pemuda yang dulunya saya panggil “kakak”, istri muda ini terbang untuk membaktikan diri yang bahkan tak pernah saya bayangkan. Menemani suami menyelesaikan kewajiban menuntut ilmu di kota pelajar. Wah.. rasanya sungguh menakjubkan, tidak berjalan sebagai kekasih, tapi bergandeng tangan sebagai seorang istri muda (hehehe, aneh banget deh, saat ini ada perasaan malu gandengan berdua. Zaman sekarang, yang belum nikah ga ada malu-malu nya ^yang merasa, buruan nikah yau. hohoho^).

Begitu tiba di kontrakan yang ternyata cukup besar untuk berdua, dunia kami berdua. Disambut pertanyaan dengan (sedikit) heran dari ibu kontrakan mengapa menikah begitu muda. Tiada jawaban yang tepat, selain memang Qadha Allah telah terjadi, ya, jodoh kami tiba diwaktu ini. Dengan polosnya menceritakan proses lamaran dan pernikahan, tanpa prasangka, yang bisa saja sebagian memberi penilaian kami menikah karena sebab yang tak dikehendaki (dan ini baru saya sadari setelah hampir sepuluh tahun menjadi istri, wkwkwkwk, syukurlah, bisa tambah pening barbie kalo nyadar di awal pernikahan yang manis).

Bimbang, datang saat suami keluar rumah. saya merasa sepi, sendiri, tak ada teman untuk bercerita, sahabat dan keluarga yang jauh diseberang lautan. Remaja akhir yang tak sepenuhnya siap untuk kehidupan rumah tangga. Eits. Bukan berarti kita hanya menikah saat kita benar-benar siap yah, karena kita tak pernah tahu kapan waktunya. Beruntung, memiliki suami dengan pengertian penuh, beliau ternyata lebih siap (alhamdulillah, jazakallah sayangkuh). Beberapa buku pernikahan dan rumah tangga berjejer rapi di rak buku mungil, beliau tak pernah meminta untuk membaca. Baru saya temukan beberapa hari kemudian, saat bingung harus mengerjakan apa lagi.

Berbekal pemahaman awam gadis muda, beberapa garis besar kewajiban dan hak istri dalam rumah tangga islam berusaha saya ingat. Beberapa detil mungkin terlewat, sebagian terlupa, banyak yang terhalang ego. Tapi tetap, saya memaksa menghantarkan diri menuju kebaikan. Hal ini tak saya pelajari saat sekolah menengah, tak saya dapat saat bergaul, tak sepenuhnya saya fahami dikeluarga, bagai angin lalu saat “briefing” singkat di KUA sebelum pernikahan.

Sungguh, para gadis, kalian yang belum menikah, betapa pentingnya menuntut ilmu mengurus rumah tangga, menjadi istri, bersiap menjadi ibu. Kumpulkan lah sekarang juga, sedari dini, sehingga awal pernikahan menjadi semakin indah. Pun kita, para ibu, anak gadis belasan yang berada dalam asuhan kita tak hanya layak mendapat pendidikan akademis, juga wajib kita bekali ilmu menjadi istri. Apalagi anda, para istri muda. Segeralah kejar ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan rumah tangga yang baru saja kalian rajut, jangan tertinggal terlalu lama seperti saya, melesat lah lebih cepat.

Istri muda, yang tak pandai mengatur menu harian. Istri muda, yang kadang merasa membersihkan rumah bisa dilakukan beberapa kali seminggu. Istri muda, yang masih suka menyetel lagu favorit ngalah-ngalahin tangisan anak tetangga. Istri muda, yang ngambeknya gak ketulungan. Istri muda, yang selalu minta dimengerti (pas banget, masa itu tuh ya, lagunya ADA BAND lagi hits banget). Istri muda, yang cemburunya mematahkan rekor puncak everest. Istri muda, yang mellow saat sadar jauh dari keluarga. Istri muda, yang saat itu belum ngaji islam dengan intensif sehingga belum memahami seutuhnya hak dan kewajiban istri ataupun suami. (#yuk ngaji)

Minimnya bekal, tak mengurangi romantisnya pengantin baru dong ya? (ciee..ciee.. yuks mak mak sekalian, kita menyelam lagi ingatan yang bikin sumringah inih). Belajar memasak berdua, membersihkan rumah berdua, ke pasar berdua, kadang memasak berdua, pokoknya saat bisa berdua, berduaan terus deh. Menu yang taste nya sedikit unik pun jadinya tak masalah kan buat berdua (kedip mata).

Well, menuntut ilmu, sepanjang hayat. Sejak menjadi istri muda hingga pengantin baru saat ini (baru... berapa belas tahun yah? #polos). Mengasah kemampuan, menambah bekal, memetik hikmah, memilah inspirasi, tak berhenti hingga saat ini, walaupun saya tak muda lagi. Karena ternyata tantangan rumah tangga tak hanya datang di awal pernikahan, kerikil keluarga tak hanya ada ketika menjadi istri muda, hujan dan badai dapat datang kapan saja, saat Allah menghendaki.

Sehingga kelak, jika dede Hana beranjak remaja, insyaAllah saya akan berusaha menyiapkannya menjadi istri terbaik bagi suaminya, ibu ternyaman bagi anak-anaknya. Semoga Allah berikan suami sepertinya abinya yang menjaga wasiat Rasulullah untuk selalu berbuat baik terhadap istrinya. Pula anak-anak lelaki , semoga dapat mewarisi dan meneladani abinya dalam memperlakukan istri. Agar dapat mendapati salah satu ciri laki-laki mulia.
“tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah.”


No comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik